Saya sering membahas buku-buku investasi, termasuk karya-karya investor terkenal seperti Warren Buffett dan lainnya. Saya juga mengulas isi buku-buku tersebut agar Bapak dan Ibu dapat belajar mandiri memahami bagaimana melakukan analisis terhadap sebuah perusahaan.
Mungkin Bapak dan Ibu pernah melihat buku “The Five Rules for Successful Stock Investing”. Di buku ini, Bapak Ibu bisa mempelajari metode valuasi saham. Buku tersebut membahas lima aturan penting, salah satunya tentang margin of safety dan kapan waktu yang tepat untuk menjual saham.

Selain itu, ada pembahasan tentang sembilan atau tujuh kesalahan yang harus dihindari, penjelasan mengenai economic moats, serta cara membaca laporan keuangan dan menganalisis manajemen perusahaan. Buku ini juga menyoroti bahaya pemalsuan keuangan—misalnya, laporan yang dibuat tampak bagus padahal mengandung informasi menyesatkan. Karena itu, penting bagi kita memahami analisa keuangan agar bisa menilai apakah sebuah perusahaan benar-benar baik atau tidak.
Yang menarik, buku ini juga membahas berbagai industri secara khusus, mulai dari kesehatan, jasa konsumen, layanan bisnis, perbankan, manajemen aset, asuransi, perangkat lunak, perangkat keras, media, telekomunikasi, barang konsumsi, industri, material, energi, hingga utilitas. Jadi, selain memberikan panduan umum, buku ini juga menyajikan contoh-contoh dari beragam sektor.
Pada kesempatan ini, saya akan fokus pada bab 19 dan 20 yang membahas industri perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Di sini dijelaskan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan ketika menganalisis perusahaan di sektor ini. Misalnya, dalam topik economic moats, terdapat konsep switching cost, yaitu biaya yang muncul ketika pelanggan berpindah dari satu penyedia ke penyedia lain. Sebagai contoh, jika perusahaan menggunakan perangkat keras tertentu lalu ingin berganti vendor, proses tersebut bisa mengganggu operasional mereka, sehingga switching cost-nya tinggi dan pelanggan cenderung enggan pindah. Inilah mengapa biasanya perusahaan IT yang menawarkan jasanya ke klien baru perlu memahami tantangan switching cost ini. Jika saya menerima layanan dari suatu perusahaan, saya akan memastikan mendapatkan pelayanan yang baik. Hal ini penting untuk mendukung bisnis saya, sehingga saya tidak perlu mengganti penyedia jasa dalam waktu singkat—pergantian provider dapat mengganggu operasional perusahaan. Selain itu, lisensi yang dimiliki perusahaan juga memberikan manfaat dalam aspek komersial dan efek jaringan (network effect). Jika mereka mampu membangun jaringan dengan berbagai layanan atau menjalin kemitraan yang kuat dengan perusahaan lain, posisi perusahaan di pasar akan semakin kokoh dan sulit tergantikan.
Saya menganjurkan Bapak Ibu untuk mempelajari hal ini lebih dalam, sehingga dapat menjadi lebih cerdas dalam menganalisis sebuah perusahaan. Sebagai contoh penerapan, saya menemukan satu perusahaan yang relevan untuk pembahasan kali ini, yaitu PT Metrodata Electronics Tbk. Harap dicatat, pembahasan ini bukan anjuran untuk membeli atau menjual saham perusahaan tersebut; semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab Bapak Ibu masing-masing. Pastikan Bapak Ibu melakukan pengecekan data dan analisis secara mandiri sebelum mengambil keputusan.
Alasan saya memilih perusahaan ini karena melihat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai USD 109 miliar pada tahun 2025, berkat adopsi teknologi di berbagai sektor seperti manufaktur, perbankan, telekomunikasi, hingga sektor publik. Metro Data Electronics dinilai mampu memanfaatkan peluang ini, terbukti dari pendapatan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya, berdasarkan http://www.tradingview.com, pendapatannya naik dari Rp15,57 triliun pada 2019 menjadi Rp25,15 triliun pada 2024. Perusahaan juga mencatat PTM sebesar 26,71 kilo, menandakan kinerja keuangan yang positif.
Potensi pertumbuhan sektor ekonomi digital semakin terlihat ketika membaca laporan industri edisi Indonesia 2024, khususnya pada segmen cloud computing yang berkembang pesat. Metrodata juga bergerak di bidang keamanan siber (cyber security), dan menurut data statistik, pasar keamanan siber di Indonesia diperkirakan mencapai USD 92,28 juta pada 2025, dengan CAGR sekitar 8,54% antara 2025–2030. Sementara itu, pasar kecerdasan buatan (AI) diprediksi menembus USD 1,39 miliar pada 2031, tumbuh 41,89%. Artinya, perusahaan menyediakan jasa di sektor-sektor yang prospeknya sangat menjanjikan.

Metro Data Electronics (kode saham MTDL), didirikan pada tahun 1975 dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak 1990, merupakan salah satu perusahaan teknologi informasi ternama di Indonesia.
MTDL memiliki dua lini usaha utama yaitu Distribution Business Unit dan Solution and Consulting Business.

Distribution Business Unit (DBU) bergerak di bidang penjualan perangkat keras dan lunak seperti notebook, printer, dan server; dan Solution & Consulting Business, yang melayani korporasi di bidang perbankan, telekomunikasi, manufaktur, dan lainnya, serta menyediakan layanan cloud, keamanan siber, AI, aplikasi, dan managed service.
Menariknya, solusi-solusi ini juga menggunakan produk-produk yang dijual melalui unit distribusi kompetitif dari ee perusahaan ini ya, ini perusahaan cukup menarik ya. Kenapa?
Metrodata memadukan penjualan perangkat keras dan layanan dalam satu solusi, sehingga memperkuat posisinya di pasar dibanding kompetitor yang hanya fokus pada salah satu aspek. Dari analisis Porter’s Five Forces, perusahaan menghadapi tantangan besar untuk masuk ke Indonesia terutama dari sisi distribusi dan pemasok, sedangkan ancaman substitusi relatif rendah.

Data keuangan menunjukkan peningkatan pendapatan dan gross profit dari tahun ke tahun, meski pertumbuhan bottom line tidak secepat top line.
Perusahaan perlu meningkatkan efisiensi biaya agar kenaikan revenue sejalan dengan pertumbuhan laba.
Aset terus bertumbuh, mencerminkan potensi ekspansi yang positif. Analisa terhadap cash flow menyoroti pentingnya keseimbangan antara pendapatan dan kas operasional; tidak ada indikasi yang mencurigakan dalam perbandingan keduanya.

Investasi aset meningkat signifikan, dan dampaknya baru akan terlihat di masa depan. Cash flow dari financing juga menunjukkan adanya pertumbuhan utang berbunga yang harus dikelola dengan baik agar tidak membebani perusahaan. Secara keseluruhan, perusahaan berupaya menangkap peluang industri yang berkembang, namun tetap perlu memantau rasio dan efisiensi agar kinerja keuangan semakin optimal.
Investor dapat melihat pergerakan rasio price-to-earning (PER) perusahaan yang kini turun menjadi 9,69 dari sebelumnya 10,29, bahkan sempat mencapai 183 pada tahun 2021. Meski pendapatan terus meningkat, PER menurun karena net margin tidak mengikuti pertumbuhan revenue, sehingga investor kurang puas dengan kinerja perusahaan.

Return on invested capital konsisten sekitar 17% selama beberapa tahun terakhir, menunjukkan perusahaan mampu memanfaatkan peluang bisnis secara stabil. Namun, margin keuntungan kurang signifikan, sehingga strategi perlu dievaluasi.

Analisa industri juga menyoroti pentingnya memahami kekuatan kompetitif dan tren investasi agar tetap relevan. Saya sarankan Bapak Ibu memperdalam analisa sebelum mengambil keputusan investasi. Materi pembahasan didasarkan pada buku “The Five Rules for Successful Stock Investing” dan video singkat yang bisa diakses untuk membantu pemahaman investasi. Terima kasih atas perhatian Bapak Ibu, sampai jumpa pada diskusi berikutnya.
Tonton video penjelasannya pada link berikut:





Leave a comment